Nyamannya Menginap di Yogyakarta BnB

We travel not to escape life, but for life not to escape us. -Anonymous

Yogyakarta Istimewa. Bukan baru sekali dua kali saya singgah ke provinsi tersebut. Beruntungnya, tanggal 18 Desember 2015 kemarin, saya punya kesempatan untuk pergi ke Yogyakarta lagi bersama kawan saya, Aufa.

Saya dan Aufa bekerja di posisi yang sama dan program yang sama di kantor, sehingga agak menyulitkan jika ingin liburan bersama! Untuk perjalanan kali ini, kami pun harus lembur hingga 2 minggu demi mendapat jatah libur bersama! Luar biasa!

Pergi ke Yogya adalah caraku untuk ngetawain kesibukan orang2 Jakarta. -Sudjiwo Tedjo, 2014

Liburan curian yang sangat singkat tersebut, ya 4 hari 3 malam, tanpa perencanaan dan semua hanya berprinsip let it flow saja.. Yang kami pikirkan hanyalah sandang, pangan, papan! Sandang berupa pakaian baru kami packing saat H-1! Pangan, terima kasih untuk akun Instagram kuliner-kuliner Yogya, jadi kami punya referensi untuk makan dimana selanjutnya dan juga yang paling penting, papan, tempat berteduh kami di kala musim hujan ini!

Untuk mencari tempat berteduh tersebut, kami tidak mencari penginapan yang serba mewah, yang terpenting adalah ada ranjang untuk merebahkan diri dan atap yang melindungi kami ketika panas dan hujan. Setelah mencari di beberapa situs pemesanan, tapi rasanya belum ada yang sreg untuk kami tempati. Beruntung saya tiba-tiba teringat akan platform AirBnb yang juga merupakan situs pemesanan penginapan di berbagai kota dan Negara!

Yogyakarta BnB tampak dari luar
Yogyakarta BnB tampak dari luar

Awalnya saya mengetikkan kota Yogyakarta, sehingga keluarlah beragam jenis penginapan dengan harga yang tentunya bervariasi. Tiba-tiba saya melihat ada sebuah kamar yang terkesan vintage dan menarik! Kemudian saya coba untuk memasukkan tanggal yang saya inginkan, voila! Ternyata masih ada kamar kosong yang masih bisa kami tempati! Sungguh seperti keajaiban, dimana saat penginapan lain masih penuh karena menjelang libur Natal dan Tahun Baru, kami masih bisa mendapat sebuah kamar dengan harga yang amat sangat terjangkau serta fasilitas yang sangat memadai! Terlalu mewah bahkan untuk pejalan seperti kami. Nama penginapannya adalah Yogyakarta BnB (tetapi mereka masih mencari nama yang pas untuk tempat penginapan ini).

Penginapan kami berlokasi di Jalan Sastrodipuran No. 19, tepatnya di belakang Pasar Malioboro yang tersohor di kalangan wisatawan. Meski begitu, tidak terasa hingar bingar keramaian di malam hari. Pemilik penginapan ini adalah Kak Mariza, Kak Chupriit dan Kak Anez. Tetapi ketika kami di sana, kami hanya bertemu dengan Kak Mariza dan Kak Chupriit yang sangat baik dan ramah menyambut kami. Meski kami datang sekitar pukul 8 pagi akibat penerbangan pagi, namun mereka memperbolehkan kami untuk langsung check-in ke kamar yang sudah kami pesan, yakni Anez’s Rooom. Ya mereka menamakan ketiga kamar yang ada dengan nama mereka!

Kamar kami selama di sana :)
Kamar kami selama di sana :)
Ini nih rak buku di kamar
Ini nih rak buku di kamar
Ornamen di sekeliling kamar
Ornamen di sekeliling kamar
Wastafel di kamar mandi :)
Wastafel di kamar mandi :)

 

Berdasarkan obrolan kami dengan kakak-kakak pemilik penginapan ini, bangunan penginapan ini dulunya adalah sebuah pabrik es batu saat tahun 1970-an hingga kemudian beralih menjadi bangunan distributor sebuah merek kosmetik pada tahun 1990-an. Namun akibat bangkrut, bangunan ini kemudian ditinggalkan selama beberapa tahun hingga akhirnya disewa oleh 3 orang pemilik Yogyakarta BnB ini. Penginapan ini baru saja soft opening sekitar 1 minggu sebelum kami menginap, sehingga masih banyak orang yang belum tahu. Ternyata, bangunan ini juga terdaftar sebagai bangunan bersejarah di Yogyakarta. Prinsip mereka adalah tidak ingin mengubah bentuk bangunan sebenarnya, hal ini terlihat dari pintu yang masih tetap dipertahankan dengan gaya vintage-nya dan juga dari lantai yang masih mempertahankan lantai yang jadul. Memasuki bangunan ini memang membawa rasa tersendiri, sangat terasa seperti di rumah. Selain itu, beragam aksesoris dan perabot yang ada di penginapan ini kebanyakan berasal dari barang-barang yang terlihat tidak bisa dipakai dan kemudian di-recycled sehingga bisa kembali dimanfaatkan!

Mencari penginapan ini tidaklah sulit, jika bepergian menggunakan TransJogja, turun di halte Malioboro 2 kemudian jalan terus ke Jalan Pajeksan, samping Ramai Mall di Jalan Malioboro. Dari jalan tersebut, kamu bisa lurus terus dan akan ada plang nama Jalan Sastrodipuran, belok ke kanan maka akan terlihat plang Jalan Sastrodipuran No. 19. Nah itu lah penginapan kami! Dari luar, penginapan ini memang tidak terkesan seperti hotel-hotel yang memiliki front desk dan juga penyambut tamu, namun pemilik penginapan ini lah yang akan langsung menyambut kalian dengan sangat ramah!

Setelah mengobrol sebentar, kami disuguhkan sarapan berupa kue lupis dan teh hangat yang diletakkan di guci-guci tanah liat. Entah memang kami yang norak atau memang kami kurang piknik, tapi kami merasa bahagia. Ternyata setiap harinya pukul 8 pagi, sang pemilik akan memberikan tamunya sarapan yang berbeda. Kami mendapat menu sarapan kue lupis, ketan manis, bahkan nasi kuning lengkap beserta jus jambu merah!

Kue lupis, sarapan pertama kami
Kue lupis, sarapan pertama kami
Sarapan kami di hari kedua, kue lupis + ketan putih + mangga + nangka. Bersama segelas jus jambu merah
Sarapan kami di hari kedua, kue lupis + ketan putih + mangga + nangka. Bersama segelas jus jambu merah
Sarapan hari terakhir, nasi dan sate lilit plus sambal pedas!
Sarapan hari terakhir, nasi dan sate lilit plus sambal pedas!

Berbicara tentang memilih penginapan, tentunya tidak lepas dari fasilitas yang ditawarkan. Ada 3 kamar yang tersedia di penginapan ini, namun mereka sedang membangun ruangan berupa dorms yang saat kami di sana, masih dalam tahap pembuatan. Sehingga kami tinggal di kamar privat dengan ranjang dan kasur berukuran untuk 2 orang, dilengkapi dengan kipas angin yang menggunakan remote, 2 buah bantal, 2 buah handuk dan juga selimut. Setiap kamar di penginapan ini memang tidak memiliki kamar mandi sendiri, namun ada di luar dan itu tidak masalah bagi kami. Bagi wisatawan yang tidak ingin tertinggal untuk selalu update di media sosial, penginapan ini juga menyediakan koneksi WiFi dengan kecepatan yang cukup whoosh! Harganya juga sangat terjangkau, per tanggal 18 Desember 2015 saat kami menginap yakni Rp 140.000 per malam untuk 1 kamar private (untuk 2 orang).

Kurang apalagi kan, dengan harga yang sangat terjangkau dan fasilitas yang sangat memadai, penginapan Yogyakarta BnB sangat cocok untuk menjadi pilihan kamu saat berkunjung ke Yogyakarta!

Mau tahu lebih lanjut? Segera cek:

www.yogyakartabnb.com

Anez’s Room https://www.airbnb.com/rooms/9814307
Mariza’s Room https://www.airbnb.com/rooms/9814518
Chupriit Room https://www.airbnb.com/rooms/9814643

Warna Warni di Shah Alam!

Pergi ke negara Malaysia identik dengan menara kembar yang dikenal sebagai Twin Tower, Petronas Tower atau Menara KLCC. Tidak lupa Petaling Street dan Jalan Alor serta kawasan Bukit Bintang yang terkenal sebagai kawasan backpacker hips di Kuala Lumpur, yang merupakan ibukota Malaysia.

Tapi kini negeri Jiran itu sudah banyak bersolek dan mulai mengembangkan berbagai destinasi wisata baru, salah satunya Laman Seni – Street Art – yang terletak di Seksyen 7, Shah Alam. Lokasinya memang hanya berada di belakang ruko-ruko makanan. Namun siapa sangka bahwa di balik ruko tersebut, yang tadinya merupakan dinding polos, disulap menjadi street art yang turut mengundang berbagai wisatawan, walaupun masih didominasi oleh wisatawan lokal.

Look how colorful it is!
Look how colorful it is!

Saya sendiri terpikir untuk menuju kawasan tersebut setelah browsing di Instagram dan juga blogwalking di beberapa blogger dari negeri tersebut. Awalnya saya kira tempat ini cukup besar dan khusus untuk tempat wisata, namun setelah saya ke sana dan harus didahului dengan nyasar karena ternyata tempatnya berada di belakang ruko.

She's trying to give me a pose
She’s trying to give me a pose
They're trying to steal my banana!
They’re trying to steal my banana!

Berbagai seni lukis mural berupa 3D painting di jalan, dinding, dan 3D instalasi turut menyemarakkan sepanjang lorong di belakang ruko-ruko ini sehingga bisa menarik para pengunjung untuk berfoto bersama keluarga dan teman-teman. Sebenarnya jika dilihat, tema lukisan mural sudah banyak diterapkan di Malaysia seperti yang terkenal di Pulau Penang dan di Melaka. Strategi ini sangat berhasil untuk menarik wisatawan mancanegara karena belum sah rasanya jika berkunjung ke Penang tanpa berfoto bersama mural tersebut. Bahkan ketika kita sampai di Penang, akan banyak brosur yang berisi panduan dimana mural itu berada karena lokasinya yang memang terpisah-pisah.

It is better to keep your mouth closed and let people think you are a fool than to open it and remove all doubt. - Mark Twain
It is better to keep your mouth closed and let people think you are a fool than to open it and remove all doubt. – Mark Twain

Jika dibaca dari sejarahnya, laman seni di Shah Alam ini merupakan inisiatif dari Majlis Bandaraya Shah Alam (MBSA) untuk mengubah suasana lorong di belakang toko-toko menjadi kawasan yang dapat bersih, indah dan menarik wisatawan. Lukisan mural pemenang yang dipamerkan di laman seni Seksyen 7 ini dipilih dari 10 pemenang Pertandingan Laman Seni 7 Shah Alam dari 4 jenis kategori yaitu ‘3D Painting’, ‘3D Installation’, ‘Street Furniture’ dan ‘Painting On Site’.

Nah tunggu apalagi, jangan lupa untuk ke Laman Seni Shah Alam jika kamu berkunjung ke Malaysia ya!

Sawadee ka!

Sawadee ka!

Januari 2014 lalu, saya berkesempatan untuk mencicipi tiga negara di Asia Tenggara dalam rangka mengisi jatah libur kuliah saya. Sejak pertengahan 2013, saya sudah mulai mengetatkan pengeluaran, mengumpulkan uang sebisa saya untuk bekal perjalanan yang tidak sebentar itu. Saya mengambil rute Jakarta-Kuala Lumpur-Ho Chi Minh-Siem Reap-Bangkok-Kuala Lumpur-Jakarta.

Saat itu, saya masih duduk di bangku kuliah semester 5 dan mencoba menabung sebisa mungkin untuk bekal perjalanan yang tidak sebentar itu. Kurang lebih 1 bulan saya habiskan menjelajahi kota-kota tersebut. Namun yang unik di sini adalah tidak sengaja belajar tentang nasionalisme, ya di negara yang bukan tanah air. Mungkin memang benar kata orang-orang, semakin jauh berada dari tanah air, maka perasaan sense of belongingakan tanah air akan semakin menguat. Namun sepertinya warga di Indonesia masih harus banyak belajar tentang penerapan nasionalisme dalam aktivitas sehari-hari, seperti yang terjadi di Thailand.

Bangkok adalah kota terakhir sebelum saya pulang ke Indonesia, sebelum transit di Kuala Lumpur Malaysia. Saat itu saya melakukan perjalanan darat dari Siem Reap ke Bangkok, ketika sampai di Bangkok, kurang lebih sama dengan Jakarta. Macetnya. Namun Bangkok punya BTS (Bangkok Mass Transit System), jadi warga di sana bisa mengakali macet dengan fasilitas transportasi publiknya yang nyaman dan terjangkau. Selain itu, Bangkok juga memanfaatkan transportasi air untuk dimanfaatkan oleh masyarakatnya, yakni melintasi Sungai Chao Praya.

tuktuk

Salah satu transportasi umum yang juga menjadi ciri khas Bangkok adalah tuk-tuk! Tuk-tuk ini seperti bajaj yang beroda tiga dan dapat disewa ke tempat tujuan tanpa argo, namun dengan harga sesuai kesepakatan alias bisa dinego. Tuk-tuk ini dapat ditemui di hampir seluruh penjuru kota Bangkok dan beberapa kota di Thailand, namun nama tuk-tuk seakan sudah tercoreng dengan banyaknya penipuan kepada para turis. Banyak supir tuk-tuk yang malah membawa turis ke toko perhiasan dan toko entah apa serta memaksa turis untuk membeli dari toko tersebut sehingga mereka bisa mendapat komisi. Selain itu, biasanya trik yang digunakan adalah mengatakan bahwa Grand Palace tutup sehingga si supir tuktuk mengalihkannya ke destinasi lain. Namun meski begitu, tidak semua supir tuk-tuk itu melakukan penipuan. Masih banyak supir tuk-tuk yang memang baik dan ramah kepada wisatawan untuk mengantar keliling kota.

Pergi ke Bangkok yang terkenal dengan sebutan Land of Smiles ini tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner dan wisata belanjanya. Kuliner khas Thailand yang sudah terkenal seperti Tom Yam, Mango Sticky Rice, Pad Thai dan beragam sate serangga bisa ditemukan dengan mudahnya di penjuru kota Bangkok. Rasanya sangat berbeda dengan restoran khas Thailand yang ada di tanah air, mungkin memang lebih nikmat jika langsung mencicipi makanan khas di tempat asalnya.

Seperti ketika saya mencoba untuk mendatangi kawasan backpacker-nya Bangkok, Khaosan Road. Saya memang tidak memutuskan untuk menginap di kawasan ini, karena berdasarkan riset sebelum berangkat, kawasan ini jauh dari stasiun BTS dan terlalu ramai karena area ini hidup 24 jam. Benar saja, ketika sampai di sana pada sore hari, saya bingung juga untuk bergerak ke arah mana karena kamu dapat menemukan apa saja di sini, mulai dari tempat Thai massage, minimarket, bar, penginapan, toko souvenir, pakaian, makanan khas Thailand, hingga makanan ekstrim! Di sana saya sempat mencicipi Pad Thai yang ada di pinggir jalan, layaknya tukang soto mie yang menjajakan dagangannya secara bebas di pinggir jalan. Rasanya, hm boleh juga dan porsinya cukup banyak. Pad Thai berbahan dasar mie kuning dan bisa memilih ingin pakai telur atau tidak. Tangan si pembuat sangat cepat mengaduk mie, taoge, telur serta bumbu pelengkap, dan voilaa jadilah seporsi pad thai yang membuat saya ketagihan!

Thailand yang juga dikenal sebagai Negara dengan banyak makanan ekstrim juga membuat saya penasaran. Ternyata memang banyak serangga yang menurut sebagian orang bukan untuk dimakan, tapi di sana dijajakan dengan bebasnya, seperti jangkrik, kalajengking, tarantula, belut dan sebagainya. Mau lihat saja sudah merinding, apalagi dicicipi. Uniknya, akibat saking ramainya turis yang penasaran dengan makanan ekstrim ini, untuk mengabadikannya dalam foto dikenakan biaya sekitar 10 baht.

makanan

Untuk kembali dari daerah Khaosan menuju penginapan di Sukhumvit, saya bertanya kepada salah satu warga lokal, namun seperti di Indonesia bahwa tidak semua orang bisa berbahasa Inggris, saya pun menjadi agak nyasar karena hanya mengandalkan bahasa isyarat seperti belok kanan, lurus, belok kiri. Hingga akhirnya saya merasa agak putus asa, tiba-tiba ada satu orang bapak-bapak yang menyapa dengan bahasa Inggris dan menanyakan tujuan saya. Awalnya saya merasa aneh karena banyaknya scams atau penipuan di tempat turis sehingga membuat saya waspada. Tiba-tiba beliau mengambil secarik kertas dari dalam tasnya kemudian menuliskan sesuatu dalam huruf Thailand dan memberitahu saya untuk memberikannya ke kondektur bus. Bapak tersebut sangat antusias saat memberikan informasi tersebut dan saya pun sangat berterima kasih. Ia juga menuliskan nama dan nomor telepon dia dalam huruf latin jika saya ada perlu untuk bertanya informasi lain! Saya merasa sangat terharu karena di tengah rasa hampir putus asa, warga lokal begitu ramah dan welcome terhadap pendatang, walaupun memang bahasa Inggrisnya hanya seadanya.

wat arun

Masyarakat di Bangkok sangat menghormati Negara, Raja dan Agama. Karena masyarakat di Bangkok beragama mayoritas Buddha, maka sangat banyak ditemui kuil-kuil atau Wat dalam bahasa Thailand yang juga menjadi destinasi wisata. Selain itu, raja Thailand, Bhumibol Adulyadej juga sangat dihormati dan dicintai oleh semua masyarakatnya. Hal ini bisa terlihat dari foto raja yang banyak tersebar di tempat-tempat umum, bahkan di depan salah satu kampus, Thammasat University yang saya lewati. Awalnya saya tidak mengetahui foto siapa yang dipajang di dekat gerbang depan, namun setelah sayagoogling,beliau adalah raja Thailand.

Selain itu, salah satu keunikan lain negara ini adalah pemutaran lagu kebangsaan Thailand setiap harinya setiap pukul 8 pagi dan 6 sore. Pemutaran lagu kebangsaan ini di berbagai tempat umum seperti mall, stasiun BTS, halte bus dan sebagainya. Kebetulan saat itu saya berada di stasiun BTS pada sore hari. Tiba-tiba setelah saya keluar dari train, orang-orang berhenti dan menjadi patung, berdiri dengan sikap sempurna dan tidak ada yang bergerak. Baik orang lokal, maupun para warga asing yang sedang melintas. Saya pun bingung harus berbuat apa selain juga ikut berdiri tegak dan diam. Ternyata sayup-sayup terdengar lagu yang diputar dari pengeras suara dan ternyata adalah lagu kebangsaan.

Dari situ saya jadi suka berpikir, gimana ya kalau hal ini dilakukan di Indonesia yang baru saja genap memasuki usia 70 tahun? Apa masih ada yang peduli dengan sikap hormat terhadap lagu kebangsaan? Bahkan banyak pelajar yang bolos upacara bendera setiap hari Senin akibat malas mengikuti acara seremonial yang terkesan tidak ada manfaatnya. Mungkin akan sangat menarik jika penanaman nasionalisme dimulai dari hal kecil ini.

Silaturahmi ke Angkor Wat, Kamboja

Sampai di Siam Reap, kita emang manfaatin fitur free pickup yang disediain dari hostel kita menginap. Selengkapnya bisa dibaca di post sebelumnya :p

Naik tuktuk pertama kali menurut gue sih seru abis. Kalo di Jakarta mungkin semacam delman tapi ini yang narik bukan kuda, tapi motor yang udah dimodif jadi belakangnya buat penumpang, persis banget kayak delman. Tuktuk (biasanya) muat 4 orang, tapi karena waktu itu gue berdua ya jadi lega deh.

Saking kecapeannya baru sampai malam, akhirnya kita ketiduran, dan tiba-tiba kamar diketok-ketok, waiya kan kita emang udah pesan untuk bangunin kita jam 4 pagi well, early morning call. Walaupun emang cape banget dan kasur udah sangat menggoda, mana itu dingin sebanget-bangetnya, tak gentar kita pun cuci muka biar agak segar. Enggak lupa juga ganti baju, dan poor me, gue gak bawa jaket tebel, jadilah gue cuma pake baju lengan panjang dan berbalut sarung tangan. Kampretnya lagi, gue gak bawa sepatu, tapi sendal jepit Ando kesayangan (yang akhirnya menyerah sepulang dari gue trip ini). Gue lapisin juga pake kaos kaki, udah kayak orang lokal Kamboja aja deh gaya gue.

Outfit ala lokal
Outfit ala lokal

Ternyata di bawah bapak So Far yang tukang tuktuk udah tunggu di bawah, wih dia bener-bener on-time banget! Dia langsung ngasih kita selembar peta Angkor Wat, dan dia bilang kita mau ke sini, sini, sini. Kita ke sini dulu, liat sunrise, abis itu ke sini sini. Gue mah sama Yogi ikut aja. Bahasa Inggris dia lumayan, logatnya lucu hihi baik dan ramah banget. Murah senyum banget sih. Sebelum jalan, dia ngasih tau kalo di kontainer deket kita itu ada air mineral botol gratis yang bisa kita minum, tinggal ambil sendiri aja.

Pagi itu, dinginnya lebih menusuk, ngiri sama bapaknya yang pake jaket tebel sedangkan gue cuma selembar, mana pake sendal jepit pula, untungnya dilapis kaos kaki. Gue kira ini biasa aja, tiba-tiba di salah satu temple-nya, gue diajak ngobrol pake bahasa Khmer, bahasa lokalnya. Langsung gue bengong, dan bilang kalo gue bukan orang Kamboja. Ternyata si mbak itu ngira gue orang lokal, yang mana gue simpulkan dari sendal jepit lapis kaos kaki yang gue pake. Dan emang jarang banget turis yang pake kayak gini, rata-rata pake sepatu. Gapapalah haha!

Baiknya yang fotoin kita :3
Baiknya yang fotoin kita :3

Temple pertama yang kita kunjungi adalah…. yang jadi ciri khasnya Angkor Wat.Di pintu masuk, beli tiket dulu lah, kita beli tiket yang sehari, karena ada juga pilihan yang dua hari, saking besarnya Kompleks Angkor Wat ini. Tiketnya seharga USD 20 (mahal sih, tapi sangat WORTH IT!)

Tiket masuk kita berdua
Tiket masuk kita berdua, difoto dulu biar keceh!
Berburu sunrise
Berburu sunrise

Gue kira kita gak akan seramai itu karena masih subuh banget, tapi ternyata itu bule-bule udah berjejer bawa masing-masih kamera dengan beragam gaya. Nunggu detik-detik munculnya sang jingga dari belakang Angkor Wat. Tapi apa daya, gue dan Yogi gak bawa kamera, cuma bawa kamera HP yang yah.. Lumayan lah daripada gak punya. Jadi hasilnya.. yah.. begitulah.

Setelah muncul juga si matahari yang menerangi dunia ini, kita jalan-jalan deh tuh ke sekeliling dan dalamnya candi. Ini satu candi udah gede banget dan tetep dingin walaupun udah ada matahari. Untungnya semakin siang udah lumayan gak begitu dingin. Kita pun kelaperan, belum sempat sarapan dan untungnya di deket salah satu candi, ada yang jual mangga, satu bijinya USD 1, mahal sist gan. Tapi enak banget, mangga terenak dunia akhirat. Karena kelaperan haha!

Anak kecil lucu lagi main sama anjingnya
Anak kecil lucu lagi main sama anjingnya

Di sekeliling dinding candi emang dihiasi relief-relief cantik, macam di Candi Borobudur kali ya (gak ngerti juga). Awalnya mikir mau sewa guide, tapi apa daya, buat sarapan aja ngirit, pake sok-sok bayar guide. Jadi kalo ada guide sama rombongan kecil, kita ngumpet-ngumpet ikut di belakangnya, dengerin aja si guide ngomong apa, lumayan infonya walaupun sepotong. Kocaknya, ada di salah satu candi, ada pohon yang akarnya panjang-panjang gitu, denger ada guide sebelah ngomong ke rombongannya kalo ada kepala Budha di pohon itu tapi gak tertutup akar. Setelah rombongan itu cabut, gue sama Yogi nyari tuh di mana kepala Budha. Susah banget nyarinya. Dan ketemu! Bangga banget nemu gituan. Pasti kalo kita enggak denger guide itu ngomong, kita mah gak merhatiin juga.

Kompleks Angkor Wat ini emang menjadi semakin terkenal sejak dibuat film yang dibintangi Angelina Jolie, sebagai Lara Croft, kalo gak salah judulnya Tomb Raider. Gue sih belom pernah nonton, tapi liat di beberapa artikel aja. Penasaran akhirnya kita ke candi yang jadi tempat shooting itu. Eh buset buat foto aja ngantri banget. Bingung kita berdua siapa yang motoin, akhirnya minta tolong orang alhamdulillah ye.

ALhmadulillah ada yang motoin
Alhamdulillah ada yang motoin
Yey kesampean juga ke sini!
Yey kesampean juga ke sini!

Kaki udah mulai pegel banget, tapi sayang juga ini tempat masih banyak yang bisa dikunjungi dan udah bayar tiket masuk mahal. Jadi lanjut aja ikut kemana si bapak So Far ajak. Di candi yang terakhir-akhir, udah lebih sepi, sepi banget bahkan, dan suasananya kayak hutan gitu, kata Yogi itu mirip sama setting-nya game Ragnarok. Di candi itu, banyak anak kecil Kamboja yang jualan postcard dan gantungan kunci gitu, tapi denger-denger jangan dibeli karena ntar mereka jumlahnya tambah banyak.

Hutan yang kayak di Ragnarok
Hutan yang kayak di Ragnarok
Keren banget bangunannya!
Keren banget candinya!
Percaya atau gak, si biksu muda ini lagi minta difotoin sama temennya.....
Percaya atau gak, si biksu muda ini lagi minta difotoin sama temennya…..

Ya emang sih, negara Kamboja emang masih negara berkembang kayak Indonesia, tapi gue liat, Indonesia lebih berkembang dibanding Kamboja. Walaupun dalam hal pengaturan situs bersejarah dan pariwisata kayak gini, Kamboja jauh lebih bagus pengelolaannya. Uang tiket senilai USD 20 bener-bener dipakai, bisa dilihat dari banyaknya konstruksi yang sedang dijalankan di berbagai candi, tanpa merusak nilai sejarahnya. Kebersihan tempat ini juga sangat dijaga. Banyak juga sign mengenai aturan untuk mengunjungi situs bersejarah ini.

Berbagai peraturan demi menjaga situs
Berbagai peraturan demi menjaga situs
Bangunan yang sedang dipugar diberi tanda untuk pengunjung
Bangunan yang sedang dipugar diberi tanda untuk pengunjung

Lucky us, saat kita di candi akhir-akhir, ternyata ada pertunjukan tari khas Kamboja, cantik baju-bajunya. Dan sepertinya ini emang untuk keperluan shooting karena juga banyak peralatan shooting beserta krunya. Duh semakin ngiri deh ngeliatnya.

Shooting tarian tradisional
Shooting tarian tradisional

Ketika kaki ini udah gak sanggup berjalan karena saking cape dan pegelnya, akhirnya sekitar jam 2 siang kita memutuskan untuk mengakhiri saja. Iya lah kita mulai dari sebelum subuh bahkan, dan laper banget juga. Akhirnya kita samperin tukang tuk-tuknya dan minta pulang ke penginapan deh!

Lega dan itu kontainer isinya air mineral
Lega dan itu kontainer ijo ngejreng isinya air mineral dingin (SEGER!)

Dan terakhir.. Selfie time!

Selfie bareng bapak tuktuk
Selfie bareng bapak tuktuk yang baik hati :)

Tragedi Sambel

Tanggal 19 Febuari 2015 kemaren, kebetulan gue dapat tiket promo AirAsia rute Jakarta-Kuala Lumpur one way IDR 199.000 dan potongan IDR 80.000 dari tiket.com dan total akhirnya IDR 132.000. Wuih murah banget sih! Emang gue udah mantau untuk tiket ke Kuala Lumpur tapi masih menunggu saat yang tepat, dan saat itu datang HAHA! (PS: Waktu itu bayar airport tax masih di konter AirAsia di bandara, tapi sekarang udah disatuin sama harga tiketnya).

Gue beli tiketnya tanggal 17 Februari dan berangkat 19 Februari, jarang-jarang kan dapet tiket promo murah! Gue cuma punya waktu 2 hari untuk packing yang mana gue sangat mager dan baru packing pas hari H-nya hehe. Kebetulan gue ke KL emang dalam rangka ngapelin pacar dan juga pengen makan naan cheese RSMY yang terkenal karena keju-kejunya yang meleleh (dan emang meleleh banget enak!!)

Rencananya gue mau masak juga sih biar irit, jadi dari sini gue beli deh tuh beragam bumbu masak dan ngumpulin resep masakan. Kebetulan si pacar itu kena pelet sarden baladonya King Fisher yang emang enak banget sih pedes. Biasanya gue beliin dia kaleng kecil, eh tapi lagi habis tuh stoknya di Carrefour, jadi gue beliin yang kaleng besar. Gak lupa gue beli sambel terasi ABC yang botol beling gitu. Beserta bumbu bakwan, bumbu ayam, dan sebagainya. Berat lah pokoknya.

Semua udah dipacking di tas dengan rapi dan cihuy. Gue nggak pernah bawa bagasi kalo naik AirAsia karena emang gak bawa barang banyak dan cairan. Lagian gue di KL cuma 1 minggu dan bisa cuci baju, jadi males bawa banyak. Gue udah sering sih bawa sarden dan sambel buat ke KL, dan aman-aman aja. Tapi kali ini lain.

Gue melenggang di Ternimal 3 Bandara Soekarno Hatta yang nggak begitu penuh, bahkan untuk masuk ke imigrasi, gue langsung tanpa mengantri. Ketika lewat Xray scanner itu, tiba-tiba gue disuruh keluarin kaleng, gue bilang itu isinya sarden sama sambel. Dan biasanya lewat bisa-bisa aja karena udah sering juga bawa ginian. Emang dasar newbie kayaknya itu petugasnya, dia nanya lagi kayak ke seniornya, tetep disuruh buang, atau dibawa ke bagasi. Ya gue bilang kan gue gak punya bagasi, karena harga bagasinya mahal. Gue udah gondok banget dia ngocok-ngocok sarden gue karena takut hancur.

Gue mohon-mohon sama si bapak itu untuk boleh dong bawa sarden ini karena di peraturannya juga gak ada larangan untuk bawa sarden dan sambel. Pertama karena yang dilarang itu adalah bawa cairan di atas 100 ml. Sedangkan sarden dan sambel itu satuannya gram, gram kan bukan untuk cairan. Panjang banget perdebatan mengenai sambel dan sarden. Kata bapaknya, itu sardennya gede dan bahaya kalo kena mata. YA MENURUT LO AJA GUE MAU MAIN LEMPAR-LEMPARAN SAMBEL SAMA SARDEN DI DALAM PESAWAT -______-

Akhirnya si bapak itu kasian kali ya, akhirnya dia manggil atasannya lagi yang kayak mbak-mbak gitu. Baik sih. Ya baik deh. Terus gue jelasin duduk perkaranya kalo gue sering bawa sambel dan sarden juga, dan perihal harga bagasi yang emang mahal, lebih mahal dari tiket gue.

F: Ayo dong mbak plis banget ini, saya juga sering kok bawa sarden sama sambel, dan ini emang titipan temen di sana. Biasanya boleh-boleh aja.

M: Wah iya mbak, ini emang dilarang karena ada cairannya (sambil ngocok sambel)

F: Yah mbak tapi kan kalo cairan itu satuannya ml, sedangkan ini kan gram. Makanya saya bawa aja gitu mbak.

M : (sambil ngocok) Nih denger kan ada cairannya nih kuahnya.

F : Yah yaudah deh mbak, kita buka aja sardennya, cairannya buang, aku bawa ikannya aja.

M : Wah kalo dibuang di sini ntar bau dong. Mana ini kamu bawanya 2 kaleng ya, banyak juga gede-gede. Kamu bawa sambel juga yah, wah ini bahaya nih kalo kena mata.

F : (gondok tapi sabar) Iya mbak tapi kan saya gak buka sambelnya di dalam pesawat. Jadi boleh ya mbak saya bawa sarden dan sambelnya.

M : Yaudah untuk kali ini saya bolehin kamu bawa sardennya, tapi untuk sambelnya gak bisa karena emang berbahaya. Bahkan untuk rute domestik aja gak boleh bawa sambel.

F : (males cari perkara) Yaudah deh mbak ini sambelnya saya tinggal, sardennya saya bawa. Makasih ya mbak.

M : Iya tapi lain kali nggak boleh bawa lagi ya, kecuali sardennya kalengnya kecil.

Begitulah percakapan gue dengan mbak-mbak dan bapak-bapak imigrasi. Sesungguhnya menurut gue, hal itu sangatlah non-sense. Pertama dibilang bahaya karena sambel kalo kena mata itu berbahaya. Ya siapa juga yang mau mainin sambel di dalam pesawat. Lagian kan sambelnya sealed dan gue lapis berkali-kali dengan plastik lagi. Gue juga taro di dalam tas banget biar dia gak tumpah dan pecah.

Pengalaman gue bawa sambel botol emang udah berkali-kali dan bahkan biasanya petugas imigrasinya malah tawa-tawa liat bawa sambel. Katanya “Takut gak bisa makan ya mbak kalo gak ada sambel.” Gitu.

Jadi intinya, untung-untungan aja dapet petugas imigrasinya. Kalo mau aman sih emang taro di bagasi, tapi kalo yang emang ngirit gak pake bagasi kayak gue, ya asal pinter ngomong aja sama petugasnya. Good luck!!

(Pertama Kali) Kedinginan di Negeri Orang

Ceritanya ini masih satu rangka perjalanan dengan trip gue ke Bangkok, alias trip beberapa negara di Indochina. Negara kedua yang gue kunjungi setelah Vietnam adalah Kamboja, atau Cambodia. Di Kamboja, gue emang nggak kepengen mengunjungi Phnom Penh, karena panas dan terlihat kayak kota biasa. Jadi gue memutuskan untuk ke Siem Reap, yang terkenal dengan Kompleks Angkor Wat.

Sewaktu dari HCMC ke Siem Reap, kita milih naik bus yang emang recommended dan ada website-nya juga jadi kredibel sih. Gue baca-baca juga di TripAdvisor dan berbagai forum kalau bus ini emang recommended. Nam busnya Mekong Express dan emang bener kata orang-orang. Di busnya ada pramugara dan pramugarinya. Dapet snack pas ganti bus di Phnom Penh. Kita juga sempet berhenti di satu tempat makan dan ketemu satu solo backpacker cewe yang berasal dari Jogja tapi dia akan berhenti di Phnom Penh, sedangkan kita lanjut ke Siem Reap.

Bus berangkat pagi-pagi banget dari HCMC dan kita telat, sampe dimarahin sama abang-abang yang jemput karena udah kesiangan. Ternyata kita berdua adalah yang terakhir masuk ke bus. Hehe. Maafin soalnya cape banget. Mana barang-barang masih berantakan di kamar, dan berimbas dengan ketinggalannya satu pack cokelat di kulkas hostel T__T

Sebelum kita sampai di Siem Reap, kita udah booking hostel, nama hostelnya Rosy Guesthouse dan ini juga hostel yang recommended dan kita beruntung banget masih ada kamar dengan harga yang super duper murah banget. Mereka juga menawarkan free penjemputan pake tuktuk saat kita turun dari bus. Saat kita sampai di Siem Reap udah malam sekitar jam 9 atau 10 malam gitu, agak lupa juga, di bus emang udah sedikit penumpangnya karena mayoritas orang turun di Phnom Penh.

Alhamdulillah pas turun udah ada orang yang bawa papan nama bertuliskan nama gue hehe. Dan tuktuk gratis kita sudah menanti. Ihiy! Pas turun dong itu kenapa dingin banget. Sedingin itu. Dingin banget. Dan kita naik tuktuk yang emang kayak delman cuma bedanya pake motor aja sih. Nama bapak yang bawa tuktuknya SoFar (gak tau gimana tulisannya sih). Dia kurang bisa Bahasa Inggris tapi untuk beberapa kata dasar sih bisa. Dia langsung nawarin dirinya untuk ngebawa kita keliling Angkor Wat besok dan melihat sunrise di sana! I am way toooooo excited for this! Setelah kita tawar harga, kita dapat USD20 untuk trip seharian besok di Kompleks Angkor Wat bersama bapak SoFar yang gaul, ramah dan baik hati. Nggak salah deh milih Rosy Guesthouse!

Pengalaman pertama naik tuktuk di Siem Reap.. Dingin. Gue gak membekali diri dengan jaket tebal sih, karena nggak mengira bahwa akan sedingin itu. Dan ternyata kalo bulan Januari itu emang dingin banget. Sampai di penginapan, kita deal lagi untuk besok dia akan jemput kita. Pas sampe kita bilang udah booking dan kita disambut hangat banget sama si pemilik guesthouse ini. Suami istri asal Australia dan Kamboja. Mereka nyapa kita udah kayak saudara mereka yang lagi pulang. Ramah dan hangat banget. Kemudian kita dipersilahkan untuk ke kamar di atas. Have to get some sleep to catch the sunrise!!

Bali (kan?) Part 2

Yang belum baca post sebelumnya yuk cek di sini 😀

Katanya sih banyak orang yang milih pihak travel karena lebih aman dan terjadwal. Sehingga mengakibatkan para teksi gelap sialan ini nggak dapet penumpang. Ya iyalah siapa yang mau naik angkutan yang kayak angkot gitu dan kaca mobilnya gelap banget di saat menjelang malem, dengan harga yang lebih mahal dari travel tapi fasilitas lebih bagus travel. Ya orang beralih lah ke travel. Kalo mau dapat penumpang ya berusaha dong, perbaikin fasilitas, bikin jadwal yang jelas, taro di media, nah kan orang yang naik jadi bisa bikin rekomendasi sehingga orang lain jadi memilih untuk naik angkutan ini. As simple as that, ada yang gampang kok disusah-susahin.

Lantas apa yang terjadi dengan gue, Aufa dan Veve setelah kejadian kita nggak bisa naik mobil travel yang udah nangkring di depan biji mata kita..

Kita bersungut-sungut dan rasanya isi kebon binatang keluar dari mulut. Di satu sisi inget kalo Tuhan selalu bersama hamba-hambanya, di satu sisi ini binatang di mulut udah liar banget. Akhirnya kita jalan kaki entah kemana lurus aja, dan berencana untuk nginep di daerah Padang-bhay! aja. Yaudah akhirnya gue nelpon OmJack, salah satu kaskuser yang domisilinya di Bali dan OmJack nyaranin gue untuk ke kantor polisi deket situ dan bilang ke polisinya. Yaudah kita ikutin, sampe sana kita bilang ke polisinya, and taaadaaaa … si bapak tukang teksi kampret itu ngikutin kita!! Bahkan dia masuk juga ke kantor polisi sebelum kita selesai jelasin ke bapak polisinya, dan mereka ngobrol gue ga ngeri, dan si bapak polisinya masuk aja dong ke dalem kantornya. Terus kita bertiga makin takut karena dia nggak mau pergi. Dia tetep maksa kita untuk naik teksinya dia dengan harga travel. Yeelah pak lo kasih gratis juga kita gak mau, bisa-bisa kita dirampok di tengah jalan, diturunin di hutan atau entahlah pikiran kita udah liar. Kita bertiga saling menghubungi teman-teman yang ada di Bali—atau seenggaknya ngerti Bali.

Gue nanya ke Ajo yang lagi kondangan dan kata dia, gue disuruh naik angkutan minibus dari pelabuhan, tapi gimana ya mana udah sore, hujan juga tiba-tiba dong. Makin nggak bisa kemana-mana. Kita ada kali sekitar 1 jam di sana tanpa hasil. Aufa bilang ke bapaknya yang lagi mau ke bandara, bapaknya terus ngehubungin temennya (koleganya ceritanya) untuk nolongin kita. Veve nanya sama junior di kampus, dan si junior itu ngasih nomor telepon taksi langganan dia. Kemudian kita telepon taksi, awalnya bapak taksinya minta IDR 500.000 untuk sampe ke Ubud. Akhirnya kita tawar jadi IDR 300.000 deh. Emang sih terdengar mahal, tapi emang jarang banget taksi (ini beneran taksi) yang berani ambil penumpang ke Padang-bhay! selebihnya taksi yang ada cuma nurunin penumpang. dan kalopun mau naik taksi bisa sih ke area luar pelabuhan, sekitar 1-2 km. JAUH BANGET.

Setelah taksi dibooking dan dia lg otw, tiba-tiba temen bapaknya Aufa menelpon dan menawarkan untuk menjemput kita di kantor polisi. Duh kita galau. Akhirnya kita iyain dan kita nelpon taksi apa bisa dibatalin, ternyata enggak. Yaudah akhirnya pas bapak taksinya sampe, kita kasih IDR 100.000, awalnya kita bilang IDR 50.000 tapi katanya dia dari jauh, yaudahlah gapapa. At least kita udah aman karena mau dijemput. Ohya si bapak kampret yang punya teksi gelap itu bahkan ngancem kita kalo dia akan nungguin kita sampe pagi-pun di daerah pelabuhan dan kita harus naik angkutan dia. Setelah itu dia ninggalin kantor polisi. Enggak lama si bapak yang temen bapaknya Aufa dateng. Thank God. Terima kasih ya Allah. Sujud syukur. Never been this thankful before.

Kita udah nggak inget kalo kita laper. Akhirnya kita ditemenin beli makan sama bapak yang jemput yang baik, kalo nggak salah namanya Pak Wayan. Dia adalah sosok malaikat dalam kehidupan kita bertiga di saat baru nginjek Pulau Dewata ini. Kita pun akhirnya beli ayam sama nasi juga walaupun awalnya kita takut, tapi kita sadar kita laper. Akhirnya kita beli makan bungkus dan diajak ke kantornya dulu. Karena itu weekend dan udah sore, kantor tutup dan sebenernya bapak itu lagi libur, bahkan katanya dia lagi benerin lampu di rumahnya, tapi ditelpon diminta tolong untuk jemput tiga cewe lugu ini. Kita enggak ngerti lagi kita harus bersyukur kayak gimana lagi. Satu pelajaran banget yang akan selalu kita kenang seumur hidup. Because in travelling, you’ll get so much life lessons. Like this.

Dan akhirnya… kita enggak jadi ke Ubud karena udah kemaleman. Kita memutuskan untuk ke daerah Kuta, ke Losmen Arthawan yang udah kita telpon saat di jalan. Iya kamar yang paling murah cuma di losmen ini. Dan thank God (once again), ternyata masih ada kamar kosong. Karena ini losmen paling laku banget di Poppies Lane II yang tersohor itu, dan mereka masih punya kamar kosong buat kita bertiga. Kita bener-bener sadar bahwa Tuhan selalu bersama hamba-hambanya. Maafin kita ya Tuhan yang baru inget kalo kita lagi susah doang. Hiks.

Akhirnya kita dianter sama supir kantor dan Pak Wayan ke Losmen Arthawan, mereka baik banget enggak ngerti lagi. Padahal jalan ke daerah Kuta kan macetnya innalillahi. Apalagi itu malam Minggu. Iya malam Minggu di Bali. Bali nih.

Bali (kan?)

Bali (kan?) Part 1

Siang itu gue, Aufa dan Veve check out dari Wisma Nusantara 2, Lombok menuju ke Bali. Kita naik taksi ke Pelabuhan Lembar. Waktu itu naik Blue Bird sekitar IDR 100.000, ya lumayan murah karena kita bertiga dan nggak tau mau naik angkutan umum apa buat ke pelabuhan. Satu hal yang ada di pikiran gue saat itu adalah jangan sampe beli tiket di calo, dan si bapak supir taksinya juga bilang jangan sampe beli tiket di calo, hingga kita ditunjukin ke loketnya. Tiket naik kapalnya IDR 45.000 per penumpang dewasa. Sampai lah kita di dalam kapal dan akan memakan 4-5 jam perjalanan laut di atas kapal feri yang terombang-ambing di lautan. Awalnya kita mau sewa bilik yang ada kasurnya buat tidur. Eh tapi mahal amat seinget gue IDR 25.000 atau IDR 30.000 deh. Ya nggak jadi lah. Kita duduk aja deket TV dan dedek-dedek baby lucu yang berkeliaran.

Perjalanan kita kali ini disponsori oleh lagu hits masa kini yakni…….. Goyang Dumang! Gue dari yang tadinya enggak tau itu lagu apa, sampe hafal itu lagu dan video klipnya. Jadi itu sejam kali lagunya Cita Citata semua. Mau tidur juga susah bangkunya sempit. Untungnya si abang kapal muterin film di TV-nya dan hampir semua orang nonton. Tapi sayangnya itu film kayaknya Unrated dari DVD bajakan deh, itu adegan bunuh-bunuhan udah kayak hal biasa aja. Dan dedek baby baby pada nonton. Hiks.

Pas udah mau sampe kira-kira sejam lagi, kita nelpon ke salah satu tour and travel ternama di Bali Lombok, P***ma tuh. Kita booking untuk tiga orang ke Ubud, kata si abang yang ditelpon, counter mereka setelah turun di Padang-bhay! Itu deket sekitar 50 meter. Dan katanya mobil travel yang ke Ubud itu berangkat jam 16.30 dari Padang-bhay! Kita sampe di Pelabuhan itu jam 16.00 dan jalan kaki eh ternyata emang sedeket itu.

Pas kita mau beli ternyata si bapak yang di agennya itu lagi ke luar sebentar dan kita disuruh tunggu di bawah aja. Yaudah kita tunggu aja bertiga, sambil nurunin tas dari pundak, udah pegel banget. Kita juga ngeliat itu mobil travelnya ada di depan kounternya. Yaudah kita santai-santai aja hahahehe maklum badan masih berasa terombang-ambing baru turun kapal.

Kita ngobrol dah tu bertiga sambil ngitung bertiga berapa, di papannya tertulis IDR 75.000 per orang, jadi bertiga IDR 225.000. Tiba-tiba ada bapak-bapak gue kira dia sih orang situ, nanya-nanya basa basi mau kemana bla bla. Awalnya kita nggak curiga sih.

Lama-lama dia bilang,

“Gini mbak, mending naik mobil saya IDR 300.000 langsung jalan sekarang.”

“Nggak pak makasih ya, kita emang udah booking kok tadi di telepon, kita juga lagi enggak buru-buru.”

“Yaudah deh mbak gini aja IDR 250.000, tuh mbak beda dikit aja, ke Ubud kan”

Di sini kita mulai agak waswas, kita bertiga udah bilang nggak pak makasih, nggak pak makasih, kayaknya si bapak kampret ini budeg. Dan pas kita bilang nggak mau, si bapak itu nyamperin ke si bapak yang ada di agennya dan ngomong-ngomong tapi kita enggak ngerti apa yang lagi diomongin.

Terus gue bilang dong ke bapak yang di counter travel itu kalo kita udah booking 3 seats buat ke Ubud via telepon. After so long talk and whatsoeverwhatheck, kita mendapat satu inti cerita, yang mana adalah:

“Wisatawan domestik enggak boleh naik travel yang ada di sana, dan travel di sana dikhususkan untuk wisatawan mancanegara. Sedangkan yang domestik harus naik teksi gelap (travel gelap-dan yang kacanya emang beneran gelap) buat ke luar dari daerah pelabuhan. Kalo pihak travel berani ngangkut, maka akan terjadi ‘hal-hal yang tidak diinginkan’”

Menurut gue, ini adalah hal ter-tai yang pernah ada di muka bumi ini.

Chatuchak Weekend Market Bangkok

Mau ngapain sih di Bangkok? Apalagi selain shopping, belanja belenji sampe eneg di ibukota Thailand ini. Bangkok emang terkenal dengan surganya shopping, padahal julukannya adalah Negeri Gajah Putih. Satu hal yang ada di pikiran gue saat gue mau ke Bangkok adalah gimana caranya gue nyimpen ini sisa remah recehan di kantong untuk belanja yang (kata orang) murah-murah, dan emang bener semurah itu.
Satu pasar yang terkenal di Bangkok adalah Chatuchak Weekend Market yang cuma ada setiap weekend aja. Trip ke Bangkok ini adalah negara penutup dunia perbolangan gue ngelilingi beberapa negara di Kawasan Asia Tenggara. Jadi intinya, duit udah tiris-tirisnya, tapi gue tetap memutuskan untuk ke Chatuchak yang sebegitu terkenalnya.
Sampe di Chatuchak… PANAS BANGET INI EHH BUSET DEH. Panas bener. Bener-bener panas. Mana bawa air minum dikit. Dan terlalu banyak godaan yang jual air minum dingin disiram es batu di sepanjang jalan hiks.
Pas turun dari BTS di Mochit, kan naik jembatan, nah itu deh udah keliatan para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menjajakan segala macem dagangan yang bikin gue pengen bercocok tanam pohon duit saking semua baranya lucu banget dan MURAH!
Buat yang keabisan duit, tenang aja masih ada teknologi canggih bernama mesin ATM 🙂
Ada satu kejadian unik, waktu kita lagi baru turun dari BTS, kan masih jalan di area station-nya, tiba-tiba orang pada berhenti dan diam, terus gue bingung, jadi yaudah kita juga diam. Nggak lama, udah pada melanjutkan aktivitasnya lagi. Ternyata saat itu lagu kebangsaan Thailand lagi diputar, dan untuk menghormatinya harus diam dan enggak melakukan aktivitas apapun. Keren banget. Kebetulan, kita waktu itu pergi ke Bangkok saat gencar-gencarnya demo di Bangkok. Kita juga sempat ngeliat ada tenda-tenda gitu di satu tempat dan katanya itu dipake para pendemo.
Balik lagi ke Chatuchak. Ini pasar tenyata gede abis. Gede bingit. Apa aja ada. Baru jalan dikit, baju lucu-lucu. Jalan dikit lagi, aksesoris gahulz. Jalan lagi, itu toko es krim kok cute banget. Jalan lagi, ya ampun itu jelly shoes yang lagi nge-hits di Jakarta (waktu itu Januari 2014). Belum lagi masuk ke sela-sela pasar kios, udah nemu banyaaaaaak banget barang lucu dan keren abis di sini. Karena kita sok-sok ngebolang akhirnya masuk-masuk sampe ke dalem banget, dan berakhir dengan nyasar di pasar hewan.
Kejadian kampret dan ngeselin saat nyasar di Chatuchak adalah nyasarnya ke pasar hewan. Iya yang jualan ikan hias, ayam, kucing, kandangnya, sampe ke binatang yang paling gue nggak suka di dunia ini. Anjing. Fullstop. Di saat gue masih enjoy-enjoy aja, tiba-tiba di sekeliling gue anjing bertebaran kayak nyebar bibit anjing. Mulai yang dijual di kandang, sampe yang sama majikannya pake tali dibawa-bawa. Gue mulai panik. Tangan Yogi jadi sasaran cengkeraman gue. Gue udah mengumpat berjuta kali dan akhirnya gue nangis karena saking takutnya. Yogi tambah panik. Semuanya panik. Gue udah ngeri banget akan dimakan anjing. Okay. Emang terkesan lebay, tapi emang gue setakut itu sama anjing karena pengalaman di masa lalu dikejar anjing yang menimbulkan efek traumatis dalam kehidupan per-anjing-an di hidup gue. Gue udah gak mikir jalan yang penting menjauh sejauh mungkin sampai akhirnya kita ketemu jalan raya yang mana pada jualan ikan hias yang ditaro di bawah tuh yang kayak di pasar-pasar, bedanya di sini ada gelembung gak tau apaan. Batu hias buat akuarium juga ada. Si Yogi kayaknya kepikiran mau beli batu hias tapi riweuh amat orang lagi ketakutan masa mau beli batu akuarium.
Gue pun menyadari satu hal. Ini Pasar Chatuchak kayak kantong Doraemon, apa aja ada. Mulai dari toko baju, celana, sepatu, aksesoris, gantungan kunci, kaos ala ala Thailand, tas, dompet, handcraft yang handmade, gelang kalung cincing dan beragam rupa makanan sampe ke pasar hewan-hewan juga! Dan harganya murah pula, semakin yakin nggak boleh bawa duit dikit kalo ke sini. Nyesel. Kayak gue. Masih banyak banget yang mau dibeli tapi apa daya tangan tak sampai. Dan kita nemu duit di jalan 100 baht, rejeki anak soleh hahahaha!
All picts are taken from www.thebangkokshoppingguide.com/chatuchak_weekend_market_bangkok because we’re tooo lazy to snap some picts and tooo busy finding a way back fufu!
PS: Kencing di sini bayar loh, di WC umum gitu, 10 baht kayaknya.

Review Nginep di VX The Fifty Bangkok

Gue waktu itu nginep di daerah Sukhumvit, di hostel VX The Fifty. Hostelnya menurut gue ya so so lah ya. Trip kali ini gue ditemenin sama Yogi, si pacar yang paling bisa diandalkan (blog berbayar di kalimat ini). Kamar kita waktu itu di mixed dorm yang kalo gak salah isinya 8 orang. Suka banget sih sama konsep hostelnya di bagian lobby. Banyak yang bisa dilakuin karena emang cantik tempatnya. Ada meja makan dan dapur yang bisa dipakai, juga disediain teh, kopi dan gula, dan seinget gue ada kulkas juga. Dan kita bisa pake barang-barang yang ada di dapur, asalkan abis dipake dicuci lagi. Ohya juga ada mesin cuci yang bayar pake koin (kayaknya, soalnya kita nggak pake sih). Di kamar mandinya dibedain untuk laki-laki dan perempuan, dan asyiknya udah disediakan shampoo dan sabun cair di setiap bilik mandi (yuhuu dan shampoo-nya wanginya enak banget deh!) Juga ada hair dryer loh di deket wastafel, mayan kan!
Di lantai bawah disediakan juga komputer dengan koneksi internet secara gratis dan ada printer (yang ini baru bayar). Staff-nya baik-baik, ramah pas kita nanya-nanya. Tapi di kamarnya emang agak susah dapet wifi, pas keluar kamar baru deh sinyal wifi kenceng. Karena kamar kita mixed dorm, yang mana isinya orang bule yang backpacking sampe berbulan bulan, jadi gue kebagian yang di atas, mana gue orangnya beser, bolak balik kamar mandi kebelet pipis. Deuh rempong. Tapi ada socket listrik dan lampu baca di tiap kasurnya gitu cihuy. Kamarnya juga disediakan handuk dan locker tapi nggak ada gemboknya, dan gemboknya bisa dibeli di resepsionis bawah. Tapi karena merasa barang-barang kita nggak berharga-berharga amat (iya baju kotor doang di tas) jadi ya kita enggak beli gemboknya hehe.
Keselnya nih kalo di dorm adalah watak orang-orang yang ada di dalam satu kamar itu, yang terkadang pada baik, terkadang ada juga yang ngeselin. Mau dia bule atau orang lokal mah sama aja kalo ngeselin. Contohnya di kamar gue ada bule cowo udah agak tua dikit, duh ilah angkuh bener. Disenyumin dia buang muka, cuih. Dan ketika malem-malem, AC tiba-tiba mati, lah gue gerah terus gue bilang ke Yogi untuk nyalain AC karena AC di ujung sana dan gue di ujung sini sama sekali gak berasa. Pas si Yogi nyalain, si bulenya malah marah-marah katanya dia kedinginan. Kedinginan dari Hongkong, semua orang yang di kamar pada kepanasan, dia doang yang kedinginan. Dasar dah Om, mending sewa kamar private aja deh kalo mau menang sendiri. Pertempuran sengit (lebay deh) akhirnya berakhir dengan nyalain AC karena ruangan pengap kalo ngga pake AC. Tapi selain si bule cowo Om-Om ini, ada bule cewe baik gitu, dia cerita udah keliling Asia Tenggara sekitar 2 bulan-an. Sendirian. Iya, kalo lo nginep di dorm, lo akan banyak ketemu solo backpacker yang enjoy aja jalan sendiri dengan berbekal Lonely Planet.
Overall, hostel ini dapat 4,5 dari 5 bintang dari gue. (Who am I?) Gue suka lokasinya yang deket sama BTS Station On Nut, sekitar 5-10 menitan jalan kaki. Deket juga sama minimarket, kayaknya 7-11 dan supermarket Tesco Lotus! Pas turun BTS itu suka ada pasar malem kalo malem-malem (iyalah!) dan banyak pilihan. Duh murah lah pokoknya asal bisa nawar. Jadi nilai plus juga nginep di VX The Fifty, harga murah, fasilitas asyik, deket kemana-mana juga karena ada BTS Line, dibandingkan nginep di Khaosan Road yang ngga ada akses BTS Line. Kita juga bisa nitip tas kalo mau pulang, ntar dikasih nomor gitu jadi tas kita bener-bener aman.
Untuk info lain, bisa langsung cek di booking.com deh 😉
*All picts taken from booking.com.